EV vs Bensin: Mana yang Lebih Hemat?
Hitungan biaya kepemilikan lima tahun antara mobil listrik dan bensin: energi, servis, pajak, sampai depresiasi. Lengkap dengan contoh angka.
Terakhir diperbarui
Jawaban singkatnya
Untuk pemakaian harian, mobil listrik hampir selalu lebih murah di biaya operasional. Tapi "lebih hemat" tidak sama dengan "harga totalnya lebih murah": selisih harga beli dan penurunan nilai jual ikut menentukan. Karena itu hitungan yang jujur adalah biaya kepemilikan total (TCO) selama kamu memakai mobil itu, bukan harga di brosur.
Yang sering dilupakan: biaya kepemilikan total
TCO menjumlahkan lima hal:
- Harga beli (dikurangi nilai jual di akhir periode)
- Biaya energi
- Perawatan dan servis
- Pajak dan asuransi
- Biaya lain: ban, pengisian di SPKLU, aksesori
Mari lihat satu per satu.
1. Biaya energi
Contoh: mobil bensin 1.500 cc dengan konsumsi 12 km/liter, bensin Rp13.500 per liter, dan pemakaian 15.000 km per tahun.
- Bensin setahun: 15.000 / 12 × Rp13.500 = sekitar Rp16,9 juta
- Lima tahun: sekitar Rp84 juta
Mobil listrik dengan konsumsi 6 km/kWh dan tarif listrik rumah Rp1.700 per kWh:
- Listrik setahun: 15.000 / 6 × Rp1.700 = sekitar Rp4,3 juta
- Lima tahun: sekitar Rp21 juta
Selisih energi lima tahun: sekitar Rp63 juta. Kalau mengisi di SPKLU berbayar, biayanya naik, tapi biasanya tetap jauh di bawah bensin.
2. Perawatan dan servis
Mobil bensin butuh oli, filter, busi, dan servis berkala. Perkirakan Rp3–5 juta per tahun. Mobil listrik tidak punya oli mesin maupun busi; yang tersisa adalah rotasi ban, filter kabin, cairan rem, dan pemeriksaan umum — sekitar Rp1–2 juta per tahun.
Selisih lima tahun: sekitar Rp10–15 juta, di luar penggantian komponen aus seperti kampas rem yang justru lebih awet karena pengereman regeneratif.
3. Pajak dan asuransi
Kendaraan listrik mendapat perlakuan pajak yang lebih ringan: bebas atau berkurang untuk BBNKB di banyak daerah, tarif PKB paling rendah, dan bebas ganjil-genap di Jakarta. Di sisi lain, premi asuransi mobil listrik masih cenderung lebih mahal karena harga perbaikan bodi dan baterainya tinggi. Rinciannya berubah dari waktu ke waktu — lihat panduan insentif & pajak EV.
4. Depresiasi
Inilah variabel yang bisa membalik kesimpulan. Mobil listrik saat ini turun nilainya lebih tajam daripada mobil bensin, sebagian karena model baru muncul cepat dan teknologi baterainya terus berkembang. Selisih harga jual lima tahun bisa menelan seluruh penghematan operasional di atas.
Karena itu, mobil listrik paling menguntungkan untuk yang memakainya lama dan menempuh jarak jauh setiap tahun. Semakin banyak kilometer, semakin besar penghematan yang menutup depresiasi.
Contoh hitungan 5 tahun
Anggap mobil bensin Rp300 juta dan mobil listrik Rp350 juta, sama-sama dipakai 15.000 km per tahun:
| Pos | Bensin | Listrik | | --- | --- | --- | | Harga beli | Rp300 juta | Rp350 juta | | Energi 5 tahun | Rp84 juta | Rp21 juta | | Servis 5 tahun | Rp20 juta | Rp7 juta | | Pajak & asuransi | Rp25 juta | Rp20 juta | | Nilai jual tahun ke-5 | -Rp180 juta | -Rp175 juta | | Total biaya 5 tahun | Rp249 juta | Rp223 juta |
Angka di atas hanya ilustrasi. Ganti dengan harga dan pemakaianmu sendiri.
Kapan EV TIDAK lebih hemat
- Kamu jarang memakai mobil (di bawah 8.000 km per tahun).
- Kamu tidak punya tempat mengisi di rumah dan selalu bergantung SPKLU mahal.
- Kamu mengganti mobil setiap 2–3 tahun, sehingga depresiasi belum sempat tertutup.
- Harga listrik di wilayahmu tinggi dan tarif bensin disubsidi besar.
Coba sendiri
Hitung dengan angka milikmu di kalkulator hemat listrik vs bensin. Isi harga mobil, konsumsi, tarif listrik, dan jarak tempuh tahunan, lalu lihat titik balik modalnya.
Baca juga: Apa yang terjadi jika baterai EV rusak dan resale value EV untuk dua sisi yang paling sering dipertanyakan.